Selasa, 19 April 2016

tarian tradisional "gandrung banyuwangi"



Menelisik Kebudayaan Tarian Gandrung Banyuwangi
“panggilan jiwa yang menari “

Tari Gandrung merupakan tarian khas Banyuwangi yang dibawakan sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat setelah panen. Gandrung merupakan seni pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik khas perpaduan budaya Jawa dan Bali. Tarian ini adalah salah satu bentuk kebudayaan dari Suku Osing yang merupakan penduduk asli Banyuwangi.
Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Kenyataannya, Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi.


Tarian gandung sama halnya dengan tarian lain yaitu suatu tarian yang bergamelan. Tetapi kesenian gandrung banyuwangi memiliki ciri khas tersendiri Baik dari tata geraknya maupun tata iringan dan vokalnya. Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya.
Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung buktinya patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi. Namun dewasa ini pelestarian seni pertunjukan melalui institus-institusi tradisional dianggap lambat dan tidak sesuai dengan perubahan sikap komunitasnya. Demikian orang kemudian mendirikan sekolah-sekolah kesenian lembaga pendidikan formal kesenian untuk menggantikan fungsi institusi-instusi tradisional itu dengan sistim yang lebih tergobrak, lebih terstruktur dan modern.Pakar-pakar seni pertunjukan tradisi direkrut sebagai nara sumber ataupun pengajar perangkat-perangkat istrumennya diangkut kedalam ruang kelas, tetapi orang lupa bahwa ada aspek yang tidak mungkin dapat terangkat adalah komunitas itu sendiri karena komunias adalah udara yang membuat seni pertunjukan itu bernafas.
pembinaan kesenian khususnya standarisasi seniman yang selama ini kita ketahui ada 2 jalur yaitu ada jalur tradisional dan jalur akademis . dilembaga pendidikan kejuruan seni, bila kita bandingkanjalur akademis memang memiliki nilai lebih sebagai contoh seniman tari hasil pembinaan melalui jalur pendidikan formal tampak lebih berkomposisis karena materiyang didapat lebih ter sistematis sesuai dengan target kurikulum, praktekpun lebih baik dan terarah serta mendapatkan ilmu pengetahuan tari yang lebih luas, sedangkan regenerasi jalur tradisional prosesnya sangat alami dan kualitasnya sangat bergantung pada tingkat kemampuan pembina namun kini seniman hasil tempaan tradisional lebih dekat dengan masyarakat.yang tidak diperoleh pada institusi pendidikan formal, sehingga diharapkan akan tumbuh benih kesadaran bahwa hanya dengan tetap sumbernya maka kesenian akan tetap berlangsung.



Sejarah


Gandrung perempuan pertama yang dikenal dalam sejarah adalah Semi, seorang anak kecil yang pada tahun 1895 masih berusia sepuluh tahun. Menurut cerita yang dipercaya, waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, namun Semi tidak kunjung sembuh, sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar: "Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing" yang artinya: "Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi". Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan seblang sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya gandrung oleh perempuan.

Tradisi gandrung yang dilakukan oleh Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya. Kesenian ini kemudian terus berkembang di seluruh daerah Banyuwangi dan menjadi ikon khas setempat. Pada mulanya gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya, namun sejak tahun 1970-an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung yang mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian.


Tata Busana Penari
Tata busana penari Gandrung Banyuwangi khas, dan berbeda dengan tarian bagian Jawa lain. Ada pengaruh Bali (Kerajaaan Blambangan) yang tampak.

Bagian Tubuh





Busana untuk tubuh terdiri dari baju yang terbuat dari beludru berwarna hitam, dihias dengan ornamen kuning emas, serta manik-manik yang mengkilat dan berbentuk leher botol yang melilit leher hingga dada, sedang bagian pundak dan separuh punggung dibiarkan terbuka. Di bagian leher tersebut dipasang ilat-ilatan yang menutup tengah dada dan sebagai penghias bagian atas. Pada bagian lengan dihias masing-masing dengan satu buah kelat bahu dan bagian pinggang dihias dengan ikat pinggang dan sembong serta diberi hiasan kain berwarna-warni sebagai pemanisnya. Selendang selalu dikenakan di bahu.

Bagian Kepala


Pada bagian kepala penari dipasangi hiasan seperti mahkota yang disebut omprok yang terbuat dari kulit kerbau yang telah dibersihkan dan diberi ornamen berwarna emas dan merah serta diberi ornamen tokoh Antasena, yaitu putra Bima yang berkepala raksasa namun berbadan ular yang menutupi seluruh rambut penari gandrung. Pada masa lampau ornamen Antasena ini tidak melekat pada mahkota melainkan setengah terlepas seperti sayap burung. Tetapi sejak tahun 1960-an, ornamen ekor Antasena ini kemudian dilekatkan pada omprok hingga seperti yang digunakan saat ini.

Selanjutnya pada mahkota tersebut diberi ornamen berwarna perak yang berfungsi membuat wajah sang penari seolah bulat telur, serta ada tambahan ornamen bunga diatasnya yang disebut cundhuk mentul. Sering kali, bagian omprok ini dipasang hio yang pada gilirannya memberi kesan magis.


Bagian Bawah

Penari gandrung menggunakan kain batik dengan corak bermacam-macam. Namun corak batik yang paling banyak dipakai serta menjadi ciri khusus adalah batik dengan corak gajah oling, corak tumbuh-tumbuhan dengan belalai gajah pada dasar kain putih yang menjadi ciri khas Banyuwangi. Sebelum tahun 1930-an, penari gandrung tidak memakai kaus kaki, namun semenjak dekade tersebut penari gandrung selalu memakai kaus kaki putih dalam setiap pertunjukannya.
Perlengkapan lain
Pada masa lampau, penari gandrung biasanya membawa dua buah kipas untuk pertunjukannya. Namun kini penari gandrung hanya membawa satu buah kipas dan hanya untuk bagian-bagian tertentu dalam pertunjukannya, khususnya dalam bagian seblang subuh.

Musik Pengiring
Alat musik pengiring untuk gandrung Banyuwangi terdiri dari: satu buah kempul atau gong, satu buah kluncing (triangle), satu atau dua buah biola, dua buah kendhang, dan sepasang kethuk. Selain itu kadang-kadang diselingi dengan saron Bali, angklung, atau rebana sebagai bentuk kreasi dan diiringi electone.

Gong







 kluncing
 





biola
 





 kendhang
 





kethuk

 





Disamping itu, pertunjukan juga diiringi panjak atau pengundang (pemberi semangat) yang bertugas memberi semangat dan memberi efek lucu dalam setiap pertunjukan gandrung. Peran panjak dapat diambil oleh pemain kluncing.



Synopsis film gandrung “panggilan jiwa yang menari”

Dalam film dokumenter ini menceritakan bahwa kesenian gandrung dapat dikatakan sebagai ibu dari segala kesenian yang ada di banyuwangi,  pada zaman dahulu kala ada seorang wanita yang melahirkan anak seorang perempuan  pada tahun 1954 tanggal 5 juli hari kamis wage. anak perempuan tersebut dilahirkan pada malam hari dan pada saat itu ayah dari anak perempuan yg baru dilahirkan itu tidak ada, karena ayahnya sedang bekerja di kawah ijen, sehinga diberilah nama “mesti” .
saat mesti berumur 6 bulan, ia sering jatuh sakit, budenya mesti tidak tega melihat mesti sakit terus menerus sehingga ia mengangkat mesti menjadi anaknya. Bude pun berjanji “ Nak , cepat sembuhlah kamu, jika nanti kamu diberi kesembuhan, maka akan saya jadikan sebagai penari gandrung
Setelah sembuh, namanyapun diubah seperti orang-orang yang memanggil dengan sebutan “ gaandrung Temu mudaiyah”. Hingga Saat Umur Mesti 15 tahun tidak disangka janji Bude Mesti tersebut dikabulkan tuhan yaitu Mesti mulai belajar Menari tarian Gandrung Pada tahun 1969. Mesti belajar berbagai macam gending, erang-erang, embal-embal, gerang kalong dan lain sebagainya juga tari jejeran, seblangan dan juga tari topeng. Bulan berikutnya ada yang mengundang Mesti, Mesti wajib melayani tamu, harus rendah hati, ramah tamah, tidak boleh sombong, tidak boleh pilih kasih. Mesti terkenal sebagai “Gandrung Temu”. Mesti diundang terus, sampai menolak karena banyak yang bersamaan.
Akhirnya banyak yang mengundurkan hajatannya, menunggu jadwal Mesti kosong, hasilnya Mesti kumpulkan. Mesti belikan macam-macam diantaranya ia pergunakan membeli sawah, membeli sapi. Kemudian banyak laki-laki yang datang, mereka senang sama Mesti. Kalau yang datang masih muda Mesti senang, kalau tua ya Mesti tinggal pergi.
Pada tahun 1977 mesti menikah, padahal saat itu usia mesti baru menginjak 18 tahun. Ia menikah dengan seorang laki-laki bernama capto yang berumur 20 tahun, karena masih sama-sama muda akhirnya orang tua dari capto tidak menyetujui hubungan mereka, apalagi pekerjaan mesti hanya sebagai penari gandrung. lalu akhirnya mesti meminta cerai dengan capto dan akhirnya mesti menjadi penari gandrung kembali  . setelah itu mesti menikah kembali dengan ridwan namun lama-kelamaan , ridwan main perempuan saja, sehingga mesti sakit hati dan membuat mesti meninggalkan rumah.
Mesti yang sudah menikah beberapa kali namun tidak juga mempunyai anak , padahal ia ingin mempunyai anak , rasanya sedih dan ingin menangis , namun mungkin memang tuhan belum memberikan mesti anak, namun mesti terus berharap agar mendapatkan jodoh yang baik, setia, lalu diberkahi seorang anak yang akan dirawat sepenuh hati dengan menyekolahkan anaknya yang tinggi sehingga suatu saat dapat menjadi anak yang soleh dan patuh terhadap orang tua dan keluarga, mestipun berharap suatu kelak nanti anaknya tidak menjadi seorang penari gandrung.


Nilai - nilai yang terkandung dalam Tari Gandrung

·         Manusia dan Tuhan
Di film ini menggambarkan bahwa tarian gandrung Banyuwangi merupakan wujud dari rasa syukur masyarakat kepada tuhan atas hasil panen yang didapatkan.

·         Manusia dan Cinta Kasih
Rasa cinta dan kasih sayang Bude Mesti sangat terlihat dalam film ini, ia sangat tidak tega melihat Mesti sakit dan sangat sayang pada Mesti sampai Mesti merawat Mesti dan mengangkat jadi anaknya.

·         Manusia dan Keindahan
Di film ini menggambarkan bahwa tari gandrung sendiri memiliki gerakan-gerakan unik yang berbeda dari tari-tari yang lain. Iringan musik dengan gerakan menghasilkan keselarasan yang menuai keindahan yang bisa dinikmati oleh penikmat seni. kesenian gandrung Banyuwangi mempunyai ciri khas tersendiri baik tata gerak maupun tata iringan dan vokal.

·         Manusia Dan hiburan
pada saat pertunjukan berlangsung kesenian gandrung terbukti dapat menghibur karena memang disajikan untuk para penonton. Tidak hanya itu, kecantikan para penari gandrung karena para penontonnya juga membuat senang karena pada pementasan para penari gandrung harus berdandan secantik mungkin agar penonton tersa senang, juga didukung oleh busana indah sehingga panari kelihatan cantik dan lebih lincah.

·           Manusia Dan Ekonomi
Dalam film ini menggambarkan kehidupan seseorang yang telah berubah menjadi lebih baik akibat menjadi seorang penari gandrung, sehingga mesti bisa membeli sawah, rumah, binatang peliharaan, dll.
·         Manusia Dan ilmu pengetahuan
Kesenian gandrung dapat dikembangkan untuk proses edukasi, melalui sekolah- sekolah kesenian yang dapat dijadikan suatu pelajaran untun mengetahui salah satu budaya Indonesia dan bagaimana cara memngembangkan ilmu pengetahuan tersebut
·         Manusia Dan budaya daerah
sebagai seni tradisi harus dijaga agar tidak punah, salah satu alternatif agar dapat eksis ditengah-tengah gempuran globalisasi yaitu masyarakat untuk mencintai dan melestarikan budaya daerah mereka. Dengan menyaksikan kesenian tradisional gandrung diharapkan menjadi ungkapan bentuk rasa cinta terhadap budaya daerah.
·         Manusia Dan jiwa sosial
Jiwa social selalu dibutuhkan oleh setiap manusia karena pada dasarnya manusia merupakan mahluk sosial yang tidak mungkin dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Nilai sosial dalam kesenian gandrung tercermin pada interaksi yang terjalin antara penari gandrung dengan penonton/tamu. Nilai yang barmanfaat bagi siswa agar siswa menyadari bahwa dalam hidup mereka baik dilingkungan masyarakat maupun dilingkungan pendidikan manusia selalu membutuhkan peran orang lain.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar