Menelisik Kebudayaan Tarian Gandrung Banyuwangi
“panggilan jiwa yang menari “
Tari Gandrung merupakan tarian khas
Banyuwangi yang dibawakan sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat setelah
panen. Gandrung merupakan seni pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik
khas perpaduan budaya Jawa dan Bali. Tarian ini adalah salah satu bentuk
kebudayaan dari Suku Osing yang merupakan penduduk asli Banyuwangi.
Bentuk kesenian yang didominasi tarian
dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa,
dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika
Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Kenyataannya, Banyuwangi sering
dijuluki Kota Gandrung dan patung penari gandrung dapat dijumpai di
berbagai sudut wilayah Banyuwangi.
Tarian gandung sama halnya dengan tarian lain yaitu suatu
tarian yang bergamelan. Tetapi kesenian gandrung banyuwangi memiliki ciri khas
tersendiri Baik dari tata geraknya maupun tata iringan dan vokalnya. Gandrung
sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut,
khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di
Banyuwangi maupun wilayah lainnya.
Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung buktinya patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut
wilayah Banyuwangi. Namun
dewasa ini pelestarian seni pertunjukan melalui institus-institusi tradisional
dianggap lambat dan tidak sesuai dengan perubahan sikap komunitasnya. Demikian
orang kemudian mendirikan sekolah-sekolah kesenian lembaga pendidikan formal
kesenian untuk menggantikan fungsi institusi-instusi tradisional itu dengan
sistim yang lebih tergobrak, lebih terstruktur dan modern.Pakar-pakar seni
pertunjukan tradisi direkrut sebagai nara sumber ataupun pengajar
perangkat-perangkat istrumennya diangkut kedalam ruang kelas, tetapi orang lupa
bahwa ada aspek yang tidak mungkin dapat terangkat adalah komunitas itu sendiri
karena komunias adalah udara yang membuat seni pertunjukan itu bernafas.
pembinaan kesenian khususnya standarisasi seniman yang
selama ini kita ketahui ada 2 jalur yaitu ada jalur tradisional dan jalur
akademis . dilembaga pendidikan
kejuruan seni, bila kita bandingkanjalur akademis memang memiliki nilai lebih
sebagai contoh seniman tari hasil pembinaan melalui jalur pendidikan formal
tampak lebih berkomposisis karena materiyang didapat lebih ter sistematis
sesuai dengan target kurikulum, praktekpun lebih baik dan terarah serta
mendapatkan ilmu pengetahuan tari yang lebih luas, sedangkan regenerasi jalur
tradisional prosesnya sangat alami dan kualitasnya sangat bergantung pada
tingkat kemampuan pembina namun kini seniman hasil tempaan tradisional lebih
dekat dengan masyarakat.yang tidak diperoleh pada institusi pendidikan formal,
sehingga diharapkan akan tumbuh benih kesadaran bahwa hanya dengan tetap
sumbernya maka kesenian akan tetap berlangsung.
Sejarah
Gandrung perempuan pertama yang dikenal dalam sejarah adalah Semi, seorang anak kecil yang pada tahun 1895 masih berusia sepuluh tahun. Menurut cerita yang dipercaya, waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, namun Semi tidak kunjung sembuh, sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar: "Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing" yang artinya: "Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi". Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan seblang sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya gandrung oleh perempuan.
Tradisi gandrung yang dilakukan oleh Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya. Kesenian ini kemudian terus berkembang di seluruh daerah Banyuwangi dan menjadi ikon khas setempat. Pada mulanya gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya, namun sejak tahun 1970-an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung yang mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian.
Tata Busana Penari
Tata busana penari Gandrung Banyuwangi khas, dan berbeda
dengan tarian bagian Jawa lain. Ada pengaruh Bali (Kerajaaan
Blambangan) yang tampak.
Bagian Tubuh
Busana untuk tubuh terdiri dari baju
yang terbuat dari beludru berwarna hitam, dihias dengan ornamen kuning emas,
serta manik-manik yang mengkilat dan berbentuk leher botol yang melilit leher
hingga dada, sedang bagian pundak dan separuh punggung dibiarkan terbuka. Di
bagian leher tersebut dipasang ilat-ilatan yang menutup tengah dada dan sebagai
penghias bagian atas. Pada bagian lengan dihias masing-masing dengan satu buah
kelat bahu dan bagian pinggang dihias dengan ikat pinggang dan sembong serta
diberi hiasan kain berwarna-warni sebagai pemanisnya. Selendang selalu
dikenakan di bahu.
Bagian Kepala
Pada bagian kepala penari dipasangi hiasan seperti mahkota yang disebut omprok yang terbuat dari kulit kerbau yang telah dibersihkan dan diberi ornamen berwarna emas dan merah serta diberi ornamen tokoh Antasena, yaitu putra Bima yang berkepala raksasa namun berbadan ular yang menutupi seluruh rambut penari gandrung. Pada masa lampau ornamen Antasena ini tidak melekat pada mahkota melainkan setengah terlepas seperti sayap burung. Tetapi sejak tahun 1960-an, ornamen ekor Antasena ini kemudian dilekatkan pada omprok hingga seperti yang digunakan saat ini.
Selanjutnya pada mahkota tersebut diberi ornamen berwarna perak yang berfungsi membuat wajah sang penari seolah bulat telur, serta ada tambahan ornamen bunga diatasnya yang disebut cundhuk mentul. Sering kali, bagian omprok ini dipasang hio yang pada gilirannya memberi kesan magis.
Bagian Bawah
Penari gandrung menggunakan kain batik
dengan corak bermacam-macam. Namun corak batik yang paling banyak dipakai serta
menjadi ciri khusus adalah batik dengan corak gajah oling, corak
tumbuh-tumbuhan dengan belalai gajah pada dasar kain putih yang menjadi ciri
khas Banyuwangi. Sebelum tahun 1930-an, penari gandrung tidak memakai kaus
kaki, namun semenjak dekade tersebut penari gandrung selalu memakai kaus kaki
putih dalam setiap pertunjukannya.
Perlengkapan lain
Pada masa lampau, penari gandrung
biasanya membawa dua buah kipas untuk pertunjukannya. Namun kini penari
gandrung hanya membawa satu buah kipas dan hanya untuk bagian-bagian tertentu
dalam pertunjukannya, khususnya dalam bagian seblang subuh.
Musik
Pengiring
Alat musik pengiring untuk gandrung
Banyuwangi terdiri dari: satu buah kempul atau gong, satu buah kluncing
(triangle), satu atau dua buah biola, dua buah kendhang, dan sepasang kethuk.
Selain itu kadang-kadang diselingi dengan saron Bali, angklung, atau rebana sebagai
bentuk kreasi dan diiringi electone.
Gong
kluncing
biola
kendhang
kethuk
Disamping itu, pertunjukan juga diiringi panjak atau
pengundang (pemberi semangat) yang bertugas memberi semangat dan memberi efek
lucu dalam setiap pertunjukan gandrung. Peran panjak dapat diambil oleh pemain
kluncing.
Synopsis film gandrung “panggilan jiwa yang
menari”
Dalam film dokumenter ini menceritakan bahwa kesenian gandrung dapat dikatakan
sebagai ibu dari segala kesenian yang ada di banyuwangi, pada zaman dahulu kala ada seorang wanita
yang melahirkan anak seorang perempuan
pada tahun 1954 tanggal 5 juli hari kamis wage. anak perempuan tersebut dilahirkan pada malam hari dan pada saat itu ayah dari anak perempuan yg baru dilahirkan itu
tidak ada, karena ayahnya sedang bekerja di kawah ijen, sehinga diberilah nama “mesti” .
saat mesti berumur 6 bulan, ia sering
jatuh sakit, budenya mesti
tidak tega melihat mesti sakit terus menerus sehingga ia mengangkat mesti menjadi anaknya. Bude pun berjanji “ Nak , cepat sembuhlah kamu, jika nanti kamu
diberi kesembuhan, maka akan saya jadikan sebagai penari gandrung”
Setelah sembuh, namanyapun diubah seperti orang-orang yang memanggil dengan
sebutan “ gaandrung Temu mudaiyah”. Hingga Saat Umur Mesti 15 tahun tidak disangka janji Bude Mesti tersebut
dikabulkan tuhan yaitu Mesti mulai belajar Menari tarian Gandrung Pada tahun
1969. Mesti belajar berbagai macam gending, erang-erang, embal-embal, gerang
kalong dan lain sebagainya juga tari jejeran, seblangan dan juga tari topeng. Bulan
berikutnya ada yang mengundang Mesti, Mesti wajib melayani tamu, harus rendah
hati, ramah tamah, tidak boleh sombong, tidak boleh pilih kasih. Mesti terkenal
sebagai “Gandrung Temu”. Mesti diundang terus, sampai menolak karena banyak
yang bersamaan.
Akhirnya banyak
yang mengundurkan hajatannya, menunggu jadwal Mesti kosong, hasilnya Mesti
kumpulkan. Mesti belikan macam-macam diantaranya ia pergunakan membeli sawah,
membeli sapi. Kemudian banyak laki-laki yang datang, mereka senang sama Mesti.
Kalau yang datang masih muda Mesti senang, kalau tua ya Mesti tinggal pergi.
Pada tahun 1977 mesti menikah, padahal saat itu usia mesti baru
menginjak 18 tahun. Ia menikah dengan seorang
laki-laki bernama capto yang berumur 20
tahun, karena masih sama-sama muda akhirnya orang tua dari capto tidak menyetujui
hubungan mereka, apalagi pekerjaan
mesti hanya sebagai penari
gandrung. lalu akhirnya mesti meminta cerai dengan capto dan akhirnya mesti
menjadi penari gandrung kembali .
setelah itu mesti menikah kembali dengan ridwan namun lama-kelamaan , ridwan
main perempuan saja, sehingga mesti sakit hati dan membuat mesti meninggalkan
rumah.
Mesti
yang sudah menikah beberapa kali namun
tidak juga mempunyai anak , padahal ia ingin mempunyai anak , rasanya sedih dan ingin menangis ,
namun mungkin memang tuhan belum memberikan mesti anak, namun mesti terus berharap
agar mendapatkan jodoh yang baik, setia, lalu diberkahi seorang anak
yang akan dirawat sepenuh hati dengan menyekolahkan
anaknya yang tinggi sehingga suatu saat dapat menjadi anak yang soleh dan patuh
terhadap orang tua dan keluarga, mestipun berharap suatu kelak nanti anaknya
tidak menjadi seorang penari gandrung.
Nilai - nilai yang terkandung dalam Tari Gandrung
·
Manusia dan
Tuhan
Di film ini menggambarkan bahwa
tarian gandrung Banyuwangi merupakan wujud dari rasa syukur masyarakat kepada
tuhan atas hasil panen yang didapatkan.
·
Manusia dan
Cinta Kasih
Rasa cinta dan kasih sayang Bude
Mesti sangat terlihat dalam film ini, ia sangat tidak tega melihat Mesti sakit
dan sangat sayang pada Mesti sampai Mesti merawat Mesti dan mengangkat jadi
anaknya.
·
Manusia dan
Keindahan
Di film ini menggambarkan bahwa tari
gandrung sendiri memiliki gerakan-gerakan unik yang berbeda dari tari-tari yang
lain. Iringan musik dengan gerakan menghasilkan keselarasan yang menuai
keindahan yang bisa dinikmati oleh penikmat seni. kesenian gandrung Banyuwangi
mempunyai ciri khas tersendiri baik tata gerak maupun tata iringan dan vokal.
·
Manusia Dan
hiburan
pada saat
pertunjukan berlangsung kesenian gandrung terbukti dapat menghibur karena
memang disajikan untuk para penonton. Tidak
hanya itu, kecantikan para penari gandrung karena para penontonnya juga membuat
senang karena pada pementasan para penari gandrung harus berdandan secantik
mungkin agar penonton tersa senang, juga didukung oleh busana indah sehingga
panari kelihatan cantik dan lebih lincah.
·
Manusia Dan Ekonomi
Dalam film ini menggambarkan kehidupan
seseorang yang telah berubah menjadi lebih baik akibat menjadi seorang penari
gandrung, sehingga mesti bisa membeli sawah, rumah, binatang peliharaan, dll.
·
Manusia Dan ilmu
pengetahuan
Kesenian gandrung dapat dikembangkan
untuk proses edukasi, melalui sekolah- sekolah kesenian yang dapat dijadikan
suatu pelajaran untun mengetahui salah satu budaya Indonesia dan bagaimana cara
memngembangkan ilmu pengetahuan tersebut
·
Manusia Dan budaya
daerah
sebagai seni tradisi harus dijaga agar tidak punah, salah
satu alternatif agar dapat eksis ditengah-tengah gempuran globalisasi yaitu
masyarakat untuk mencintai dan melestarikan budaya daerah mereka. Dengan
menyaksikan kesenian tradisional gandrung diharapkan menjadi ungkapan bentuk
rasa cinta terhadap budaya daerah.
·
Manusia Dan jiwa
sosial
Jiwa
social selalu dibutuhkan
oleh setiap manusia karena pada dasarnya manusia merupakan mahluk sosial yang
tidak mungkin
dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Nilai sosial dalam kesenian gandrung tercermin pada interaksi
yang terjalin antara penari gandrung dengan penonton/tamu. Nilai yang
barmanfaat bagi siswa agar siswa menyadari bahwa dalam hidup mereka baik
dilingkungan masyarakat maupun dilingkungan pendidikan manusia selalu
membutuhkan peran orang lain.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar